Tragedi Pembunuhan Anwar Sadat

  • 3 min read
  • Okt 07, 2020

Pada 6 Oktober 1981 Rakyat Mesir bersiap menyambut peringatan hari kemenangan dalam perang Yom Kippur dengan Israel 1973 dengan melakukan parade militer tahunan. Parade tentara ini diikuti kepala negara dan para panglima angkatan bersenjata.

Sang presiden Jenderal Besar Anwar Sadat dengan pakaian kebesaran militer duduk di podium utama bersama sejumlah pimpinan militer. Tapi, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, kali ini, menurut istrinya, Jihan Sadat, Presiden Mesir, itu tidak mengenakan rompi antipeluru di bagian dalam baju militernya.

“Saya sudah ingatkan supaya tetap mengenakan rompi antipeluru, tetapi beliau menolak,” ujar Jihan.

Anwar Sadat dengan serius memperhatikan parade dan defile pasukan militernya. Truk-truk tentara yang membawa roket antipeluru dan berbagai kendaraan militer melintas di depannya. Setengah menit kemudian, giliran pesawat-pesawat militer yang lewat. Pesawat-pesawat itu melakukan gerakan akrobatik yang sangat menawan.

Hampir semua mata terfokus pada gerakan akrobatik pesawat tempur, termasuk Anwar Sadat dan para komandan dan pengawal khususnya. Mereka mendongakan pandangannya ke langit untuk melihat pertunjukan hebat itu. Saat itulah salah satu kendaraan militer pengangkut roket berhenti di depan podium tempat Jenderal Besar Anwar Sadat duduk.

Dari jarak sekitar 20 meter, Kholid Islambuliy turun dari kendaraan militer itu. Tak ada satu pun yang perhatian dengan kehadiran Kholid, selain Anwar Sadat. Ia merasa Kholid datang untuk mengucapkan salam. Akan tetapi, Kholid malah melemparkan granat tangan yang meledak begitu membentur dinding podium.

Disusul granat berikutnya yang dilempar Atho Thoyal, kemudian granat ketiga oleh Kholid Islambuliy lagi, walaupun tidak meledak. Setelah itu, granat keempat dilempar Abdul Hamid Abdus Salam dan meledak di tengah orang-orang yang duduk.

Akibat ledakan ketiga granat yang cukup memekakkan telinga itu, semua kursi yang ada di podium kepresidenan dan yang duduk di atasnya terjungkal.

Semuanya terkapar di bawah kursi-kursi itu akibat suara ledakan yang begitu keras dan susul-menyusul. Sebagian orang yang berdiri di dekat Anwar Sadat ikut terkena ledakan kilat ini.

“Kalian para pengkhianat …” ujar Anwar dalam bahasa Arab sebelum akhirnya tubuhnya terkoyak oleh butir-butir peluru dari senapan serbu yang terpasang di atas truk militer yang ditembakkan Husain Abbas. Begitu melihat Jenderal Anwar, Husain langsung menembakan beberapa peluru. Sang jenderal pun jatuh bersimbah darah.

Sementara, Kholid Islambuliy kembali menembaknya dengan senapan serbunya di podium. Ia juga membunuh beberapa pembantu Anwar Sadat, beberapa tamu, dan teman dekatnya.

Aksi tersebut tidak memakan waktu lebih dari 40 detik. Peristiwa berdarah itu menggemparkan Mesir dan seluruh dunia tersentak. Presiden Mesir Anwar Sadat dibunuh dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Anwar tewas bersama tujuh orang dekatnya yang berada di panggung parade. Selain itu, 20 orang lainnya, termasuk empat diplomat Amerika, mengalami luka-luka.

Pembunuhan ini direncanakan begitu detail oleh seorang insinyur bernama Muhammad Abdus Salam Faroj. Ia juga penulis buku Al-Faridhoh Al-Ghoibah (Kewajiban yang Hilang).

Pelaku eksekusinya ada empat orang, yakni Kholid Islambuliy, Atho Thoyal, Abdul Hamid Abdus Salam, dan Husain Abbas. Mereka yang terlibat dalam rencana itu diidentifikasi sebagai anggota Jihad Islam Mesir.

Tapi, tindakan Islambouli itu dipandang sebagai perlawanan dari semangat Islam dan penolakan terhadap persetujuan Camp David antara Israel dan Mesir pada 1979. Persetujuan Camp David itu merupakan inisiatif perdamaian negara Arab pertama dengan negara Yahudi.

Sadat yang memimpin Mesir sejak 1970-an sempat berperang melawan Israel dan kemudian berdamai dengan tetangga Yahudi itu untuk mendapatkan kembali Sinai.

Buntut dari aksi itu, Islambouli yang bergabung dengan Jihad Islam Mesir bersama Muhammad al-Salam Faraj dan Essam al-Qamari, dieksekusi pada 15 April 1982.

Setelah eksekusi, Islambouli malah dinyatakan sebagai pahlawan oleh banyak organisasi umat Islam sayap kanan di seluruh dunia dan menjadi simbol inspirasi untuk gerakan-gerakan Islam radikal.

Sebuah plot untuk membunuh mantan presiden Mesir Marsekal Hosni Mubarak oleh saudara Islambouli, yakni Mohamed Showqi, pernah digagalkan pada 1995. Dia ditangkap di bandara Kairo karena telah mendirikan koneksi aktif dengan sebuah kelompok.

Setelah tiba dari Teheran pada Agustus 1995 dan sedang menunggu pengadilan ulang setelah mengajukan banding terhadap keyakinannya. Showqi akhirnya dijatuhi hukuman mati secara in absentia di pengadilan militer pada 1992 atas perencanaan operasi teroris di Mesir.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *