Populasi Kiwi di Dunia Menurun Akibat Penyakit Misterius : Okezone techno

  • 2 min read
  • Okt 19, 2020

[ad_1]

ITALIA menjadi negara produsen kiwi terbesar kedua di dunia setelah China. Selama delapan tahun terakhir para petani telah memerangi musuh misterius yang sejauh ini telah membunuh lebih dari 20 persen tanaman kiwi di negara itu.

Serangan misterius itu dimulai dengan daun yang layu dan menghadap ke bawah. Dalam 10 hari daun-daun tersebut jatuh ke tanah, meninggalkan buah kiwi terkena sinar matahari langsung. Di dalam tanah, akar pohon tersebut menjadi berwarna gelap dan mulai membusuk.

Dalam kurun waktu satu atau dua tahun seluruh tanaman menjadi layu dan mati. Tidak ada obat yang diketahui hingga saat ini. Pada saat para petani mulai memperhatikan gejala-gejala yang muncul, sudah sangat terlambat untuk melakukan tindakan apapun.

Para petani menyebutnya morìa, atau ‘mati’, dan telah menghancurkan perkebunan di mana tanaman kiwi tumbuh subur selama beberapa dekade. Mengacu pada mora sebagai penyakit mungkin pendapat ini tidak sepenuhnya benar.

Sebab para ilmuwan tidak benar-benar tahu apa itu. Mereka berusaha mencari tahu apa yang membunuh tanaman kiwi sejak fenomena itu pertama kali diamati di Verona, pada 2012. Mereka melihat berbagai faktor, dari jamur dan bakteri, hingga komposisi tanah dan kadar oksigen.

Seorang Peneliti dari Perusahaan Riset Agrea, Lorenzo Tosi mengatakan mereka belum menemukan titik terang maupun jawaban terhadap fenomena yang menyerang tanaman kiwi sejak delapan tahun lalu.

“Sangat sulit untuk mempelajari sesuatu seperti ini. Saat kami ingin memahami penyebab sesuatu, kami mencoba mengisolasi dan menjalankan eksperimen. Tapi itu tidak berhasil kali ini karena beberapa faktor sedang berperan. Segala sesuatu tampak bertentangan dengan hal lain,” ujar Lorenzo Tosi, menyadur dari Oddity Central, Senin (19/10/2020).

Para ilmuwan telah menemukan sejumlah besar patogen berbeda pada tanaman merambat yang sakit. Tapi tidak ada satu pun yang ditemukan di setiap spesimen yang dianalisis. Para petani mencoba mencabut tanaman kiwi tua dan menanam yang baru di tanaman mereka.

Mereka menanam di tanah baru dan pertanian yang telah berumur puluhan tahun, tetapi morìa akhirnya kembali lagi.

 Italia menjadi negara produsen kiwi terbesar kedua di dunia setelah China.
(Foto: Prevention)

Baca juga: Ketahui Tugas-Tugas Impostor di Game Among Us

“Tahun ini, semuanya mati. Anda dapat mencoba semua yang Anda inginkan tetapi tidak ada yang berubah, dalam dua atau tiga tahun, Anda kembali ke awal,” kata Corrado Mazzi, seorang petani kiwi dari Verona.

Mazzi, dan petani kiwi lainnya di sekitar Verona, mencoba semuanya dalam beberapa tahun terakhir. Dia mencabut semua tanaman merambatnya pada 2015, dan menanam yang baru pada 2016 dan 2018. Dia mengikuti praktik pertanian terbaik, tetapi morìa masih muncul kembali.

Ilmuwan telah mulai berspekulasi bahwa pemanasan global dapat menjadi penyebab utama kematian kiwi yang tidak dapat dijelaskan ini. Penelitian telah menunjukkan bahwa suhu ideal untuk menanam kiwi adalah antara 25 ° C dan 27 ° C.

Tetapi dalam beberapa tahun terakhir suhu musim panas telah mencapai 30 ° C. Terdapat pula curah hujan ekstrem yang dapat merusak akar pohon kiwi. Tapi tidak ada sindrom serupa yang tercatat sebelum 2012, sehingga banyak yang menuding hal ini disebabkan oleh perubahan iklim.

“Saya masih memiliki banyak data untuk dianalisis, tetapi semuanya tampaknya mengarah ke sana. Saya menjadi yakin bahwa perubahan iklim adalah faktor utama. Jika kita mempelajari aspek ini secara mendalam, saya pikir kita akan menemukan penyebabnya,” kata Ahli Mikrobiologi Tanah, Laura Bardi.

Apa pun penyebabnya, mora hanya mempercepat laju perusakan perkebunan kiwi. Ini telah menghancurkan 84% perkebunan di Verona, dan menyebar dengan cepat. Gejala serupa telah diamati di Prancis, Spanyol, Yunani, Turki, Jepang, dan China.

Tapi kondisi ini tampaknya bergerak jauh lebih cepat di Italia. Hal yang menakutkan adalah tidak ada yang tahu apa itu atau bagaimana cara menghentikannya.

[ad_2]

Source link