Kekacauan Massa Trump di Gedung Capitol, Joe Biden: Ini Bukan Protes, Ini Pemberontakan

  • 3 min read
  • Jan 07, 2021
Kekacauan Massa Trump

Beberapa ratus simpatisan Presiden Donald Trump nekad menggempur masuk Gedung Capitol Amerika Serikat (AS) pada Rabu (6/1), dalam usaha menggagalkan kekalahan Trump dalam pemilu November 2020 kemarin. Gempuran massa simpatisan Trump memaksakan Konferensi AS tunda sesion yang akan mensertifikasi kemenangan Presiden AS dipilih Joe Biden.

Reuters memberikan laporan, dengan senjata terhunus dan gas air mata, polisi mengevakuasi anggota parlemen dan usaha bersihkan Gedung Capitol dari demonstran, yang menerobos aula Konferensi dalam episode mengagetkan yang ditayangkan di penjuru dunia.

Seorang demonstran menempati pentas Senat dan berteriak: “Trump memenangi penyeleksian itu.” Beberapa demonstran mengubah barikade dan bentrokan dengan polisi saat beberapa ribu orang turun ke halaman Gedung Capitol.

Video memperlihatkan demonstran pecahkan jendela dan polisi menebarkan gas air mata dalam gedung. Kepala Polisi Metropolitan Washington Robert Contee menjelaskan, beberapa pengacau memakai bahan kimia yang membuat iritasi untuk menyerbu polisi. Beberapa polisi terluka dan satu masyarakat sipil ditembak.

Biden, seorang Demokrat yang menaklukkan presiden Republik dalam penyeleksian 3 November dan akan memegang pada 20 Januari, menjelaskan, rutinitas beberapa demonstran itu tiba dengan provokasi.

Biden itu menjelaskan, beberapa pengunjuk rasa yang menggempur Capitol, merusak jendela, menempati kantor, menggempur Konferensi, dan memberikan ancaman keselamatan petinggi dipilih. “Ini bukanlah protes, ini perlawanan,” pungkasnya.

Biden menekan Trump untuk akhiri pengepungan ini.

Dalam satu video yang diupload ke Twitter, Trump mengulang claim palsunya mengenai penipuan pemilu tapi menekan beberapa demonstran untuk pulang.

“Anda harus pulang saat ini, kami harus mempunyai kenyamanan,” kata Trump. “Kami menyukaimu. Kamu benar-benar istimewa. “

Twitter batasi pemakai untuk me-retweet video dan tweet Trump sebab resiko kekerasan.

Wakil Presiden AS Mike Pence, yang pimpin sesion kombinasi Konferensi, sudah dikawal dari Senat.

Episode kacau-balau tersingkap sesudah Trump, yang saat sebelum penyeleksian menampik memiliki komitmen untuk menyerahlan kekuasaan secara nyaman bila ia kalah, bicara ke beberapa ribu demonstran, mengulang claim tidak berdasarkan jika kontes itu diculik darinya sebab manipulasi dan penyelewengan pemilu yang semakin makin tambah meluas.

Kritikus menyebutkan usaha oleh anggota parlemen Republik itu selaku gempuran pada demokrasi Amerika dan dominasi hukum dan eksperimen kup legislatif.

Dua anggota Partai Demokrat paling atas di Konferensi AS, Ketua DPR Nancy Pelosi dan Senator Chuck Schumer, minta Trump untuk mengatakan ke seluruh demonstran selekasnya tinggalkan Gedung Capitol.

Waktu massa menggempur masuk, Polisi Gedung Capitol minta ke anggota parlemen di ruangan DPR untuk ambil masker gas dari bawah bangku mereka dan memerintah mereka untuk turun ke lantai untuk keselamatan mereka. Petugas mengambil senjatanya waktu seorang massa coba masuk ruang DPR.

Beberapa ratus anggota DPR, staff dan jurnalis selanjutnya dievakuasi ke posisi yang dirahasiakan.

Petinggi penyeleksian dari ke-2 partai dan pemerhati mandiri menjelaskan, tidak ada manipulasi yang berarti dalam pemilu 3 November 2020 lalu yang dimenangi Biden dengan lebih dari 7 juta suara dalam penyeleksian umum nasional.

Beberapa minggu sudah berakhir semenjak negara sisi mengakhiri sertifikasi jika Biden memenangi penyeleksian dengan 306 suara Electoral College dibanding dengan 232 suara Trump. Rintangan mengagumkan Trump pada kemenangan Biden sudah ditampik oleh pengadilan di semua negeri.

“Bila penyeleksian ini diurungkan cukup dengan dakwaan dari faksi yang kalah, demokrasi kita akan masuk spiral kematian,” kata Pimpinan Sebagian besar Senat Mitch McConnell, yang menolong memberi Trump beberapa perolehan paling besarnya.

Walikota Washington Muriel Bowser memerintah jam malam di semua kota start pukul 6 sore.

Pasukan Garda Nasional, agen FBI, dan Dinas Rahasia AS dikeluarkan untuk menolong polisi Gedung Capitol yang kerepotan.

Kekerasan itu berlangsung di hari yang serupa saat Partai Republik Trump kehilangan sebagian besar di Senat AS waktu mereka kalah dalam dua penyeleksian perputaran ke-2 di Georgia.

“Kami tidak pernah berserah,” Trump awalnya menjelaskan ke beberapa ribu simpatisan yang bersorak-sorai di bentangan berumput dekat Gedung Putih yang disebutkan Ellipse. “Kami tidak pernah kecolongan. Itu tidak ada. “

Trump minta Pence untuk menggagalkan hasil penyeleksian waktu ia pimpin diskusi di Konferensi. “Bila tidak, aku akan sedih kepadamu,” kata Trump.

Konstitusi AS tidak memberikan Pence kemampuan untuk secara sepihak menggagalkan hasil penyeleksian, dan wapres menjelaskan dalam satu pengakuan jika ia tidak bisa terima atau menampik suara penyeleksian secara sepihak.

Kekerasan itu mengagetkan beberapa pimpinan dunia. “Trump dan pendukungnya harus terima keputusan pemilih Amerika selanjutnya dan stop menginjak-injak demokrasi,” kata Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas.

Barisan usaha, yang umumnya adalah sekutu setia Partai Republik di Washington, bereaksi keras. Federasi Produsen Nasional menjelaskan, Pence harus menimbang untuk mengaplikasikan klausul dalam Konstitusi yang memungkinkannya presiden dicabut dari kedudukannya saat ia tidak bisa lakukan kerjanya.

“Ini provokasi dan harus diberlakukan semacam itu,” kata Presiden Federasi Produsen Nasional, Jay Timmons.

close