Dinasti Habsburg Memenangkan Pertempuran Lepanto

  • 3 min read
  • Okt 07, 2020

Hari ini 449 tahun yang lalu, tepatnya 7 Oktober 1571, Dinasti Habsburg berhasil memenangkan pertempuran Lepanto. Kemenangan ini di raih atas kerjasama Habsburg dengan Kesultanan Utsmaniyah.

Perang yang meletus sejak 1570 ini, adalah perang yang disebabkan oleh keterlibatan antara Dinasti Habsburg dan Kesultanan Utsmaniyah untuk berkampanye. Kedua kerajaan besar tersebut berkampanye dengan tujuan memperoleh wilayah Venesia dari Siprus.

Dinasti Habsburg Memenangkan Pertempuran Lepanto

Sejak abad ke-13, Ottoman yang awalnya hanyalah kerajaan kecil di Asia Barat tumbuh menjadi negara adidaya baru. Satu demi satu, wilayah-wilayah di Eropa Timur berhasil ditaklukkan oleh monarki Muslim tersebut.

Puncaknya adalah ketika Ottoman berhasil menaklukkan Konstantinopel sekaligus meruntuhkan Kekaisaran Romawi Timur / Byzantium. Semakin menggilanya kekuatan Ottoman lantas menuai kekhawatiran dari negara-negara Eropa yang khawatir kalau wilayahnya kelak juga akan dicaplok oleh Ottoman.

Kekhawatiran juga datang dari Paus Pius V yang menganggap ekspansi Ottoman sebagai ancaman terhadap kelangsungan umat Kristen di Eropa.

Tahun 1570, Pulau Siprus yang sedang berada dalam kendali Republik Venezia diinvasi oleh pasukan Ottoman. Merasa tidak sanggup mengalahkan Ottoman sendirian.

Venezia lantas mencoba meminta bantuan kepada negara-negara Eropa. Gayung bersambut karena Paus kemudian melobi pemimpin negara-negara Eropa untuk membentuk koalisi militer.

Hasilnya, pada tahun 1571 terciptalah koalisi militer yang dikenal sebagai “Liga Suci” / “Liga Kudus” (Holy League) di mana anggotanya terdiri dari Spanyol, Malta, & negara-negara Semenanjung Italia (termasuk Venezia & Negara Kepausan).

Pasukan yang menyusun Liga Suci diperkuat oleh 212 kapal layar (galley), 28.500 prajurit, & 40.000 pelaut. Jika dibandingkan dengan komposisi pasukan Ottoman, pasukan koalisi bisa dikatakan inferior dari segi jumlah karena armada Ottoman terdiri dari 251 kapal, 31.000 tentara, & 50.000 pelaut.

Namun kendati kalah dari segi jumlah prajurit, pasukan koalisi memiliki keunggulan dalam hal jumlah meriam & teknologi senjata api. Merasa percaya diri dengan jumlah pasukan yang sudah terkumpul, armada Liga Suci kemudian berlayar menuju Siprus untuk memerangi Ottoman. Namun sebelum tiba di Siprus, armada Liga Suci keburu berpapasan dengan armada Ottoman di Teluk Lepanto.

Menjelang pecahnya pertempuran, kapal dari kedua belah kubu membentuk formasi sejajar yang terbagi ke dalam 3 divisi. Divisi kiri armada Liga Suci yang letaknya paling utara dipimpin oleh Agostino Barbarigo yang berasal dari Venezia.

Divisi tengah dipimpin oleh John I (Austria). Sementara divisi kanan dipimpin oleh Giovanni Doria (Genoa). Di pihak lawan, armada Ottoman juga terbagi ke dalam 3 divisi serupa.

Masing-masing divisi dipimpin oleh Suluk / Sirocco (kanan), Ali Pasha (tengah), & Uluj Ali (kiri). Posisi armada Uluj Ali sedikit lebih selatan dibandingkan armada Doria, sehingga Doria kemudian memerintahkan armadanya untuk mengubah posisinya lebih ke selatan agar armada Ottoman tidak bisa mengepung armada Liga Suci.

Berubahnya posisi armada Doria menciptakan ruang kosong di sebelah selatan armada John. Situasi tersebut lalu dimanfaatkan armada Uluj Ali untuk menerobos maju & menggempur armada John dari arah selatan.

Melihat hal tersebut, Doria lantas meminta armadanya kembali ke posisi awal, sehingga pecahlah pertempuran antara armada Uluj Ali melawan armada Doria.

Sementara itu di sebelah utara, armada Barbarigo terlibat pertempuran dengan armada Suluk yang mencoba menjepit armada Liga Suci dari arah utara. Armada Barbarigo memang berhasil membendung pergerakan pasukan Ottoman & bahkan menewaskan Suluk. Namun keberhasilan mereka harus dibayar mahal dengan gugurnya Barbarigo.

Di sebelah selatan, armada John terlibat pertempuran hebat dengan armada pimpinan Ali Pasha. Supaya bisa membunuh Ali Pasha, kapal-kapal Liga Suci merapat di dekat kapal Ali Pasha, lalu para awaknya melompat ke kapal Ali Pasha.

Setelah 2 kali usaha mereka berakhir dengan kegagalan, pasukan Liga Suci akhirnya berhasil membunuh Ali Pasha & kemudian memajang kepalanya di atas tiang kapal.

Begitu melihat kepala pimpinannya, moral pasukan Ottoman langsung ambruk. Apalagi persediaan amunisi mereka juga semakin menipis. Merasa tidak sanggup lagi melanjutkan pertempuran, Uluj Ali & armada Ottoman yang masih tersisa terpaksa mundur dari medan tempur.

Pertempuran Lepanto yang sudah berlangsung selama 4 jam pun berakhir dengan kemenangan armada Liga Suci.

Akibat Pertempuran Lepanto, kubu Liga Suci harus kehilangan 50 kapal & 13.000 personilnya. Namun kerugian tersebut bisa dikompensasi dengan keberhasilan armada Liga Suci merebut kapal-kapal Ottoman & membebaskan budak-budak yang ditahan di dalamnya.

Kerugian lebih besar harus ditanggung oleh pihak Ottoman yang harus kehilangan 210 kapal & 28.000 lebih personil militernya. Akibat begitu besarnya kerugian yang harus ditanggung oleh Ottoman dalam pertempuran ini.

Ottoman merasa kapok untuk kembali terlibat dalam pertempuran laut berskala besar di Laut Mediterania. Kendati demikian, Pulau Siprus pada akhirnya tetap berpindah tangan ke Ottoman karena Venezia enggan melanjutkan konflik dengan Ottoman.

Pertempuran Lepanto kerap dianggap sebagai salah satu peristiwa penting dalam sejarah modern awal Eropa karena berkat pertempuran ini, ambisi Ottoman untuk memperluas wilayahnya hingga ke Eropa Barat & Semenanjung Italia berhasil digagalkan.

Secara tidak langsung, pertempuran ini juga membuat Negara Kepausan selaku pusat agama Katolik dunia tetap kokoh berdiri hingga sekarang (sebagai negara Vatikan sejak abad ke-20).

Pertempuran Lepanto juga melambungkan rasa percaya diri masyarakat Eropa sekaligus mematahkan mitos kalau pasukan Ottoman adalah pasukan yang tidak bisa dikalahkan. Sebagai wujud sukacita atas Pertempuran Lepanto, karya-karya seni & perayaan bertema Pertempuran Lepanto pun bermunculan di daratan Eropa.

Hari itu ditetapkan menjadi pesta Ratu Rosario yang Amat Suci, dimana pada saat itu pasukan mereka melakukan Doa Rosario pada saat jalannya pertempuran.

Post Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *